Tokoh Maluku Desak Pemerintah Kelola Blok Masela di Darat

Rimanews – Sejumlah tokoh Maluku bertemu anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Sidarto Danusubroto dan Suharso Monoarfa di Jakarta, Selasa (16/02/2016), terkait pengelolaan Blok Masela sekaligus berharap agar kilang minyak dan gas di daerah itu dibangun di darat, bukan di laut. Menurut Direktur Archipelago Solidarity Foundation Dipl-Oek Engelina Pattiasina kepada pers di Jakarta usai pertemuan itu mengemukakan, Wantimpres akan menyampaikan masukan pemikiran dan sikap para tokoh Maluku yang menginginkan agar pembangunan kilang Blok Migas Masela dibangun di darat kepada Presiden Joko Widodo. Baca Juga Gempa 5 Skala Richter Guncang Maluku Pengibaran Bendera RRC, Fahri: Hati-Hati Provokasi Pelabuhan di bawah Pelindo I siap hadapi natal Sidarto didampingi Suharso Monoarfa menerima masukan para tokoh Maluku dari berbagai elemen itu sekitar dua jam. Engelina selaku pimpinan rombongan membuka dan sekaligus menutup pertemuan yang berlangsung di Kantor Wantimpres tersebut. Engelina menegaskan, posisi para tokoh dan keinginan hampir semua elemen masyarakat Maluku bahwa pembangunan kilang di darat bukan saja penting bagi peningkatan kesejahteraan rakyat Maluku dan Maluku Utara, tetapi juga pengakuan akan keberadaan Blok Masela sebagai bagian dari wilayah adat Maluku. “Sikap kami jelas, pembangunan kilang di darat akan berdampak sangat positif bagi rakyat Maluku. Pengaruhnya jauh lebih besar ketimbang kilang dibangun di laut lepas,” kata Engelina. Karena itu, kata Engelina, Wantimpres perlu secepatnya menyampaikan hal ini kepada Presiden agar mengambil keputusan yang tepat. Mereka yang bertemu Wantimpres, yaitu Engelina Pattiasina, Prof Dr Nus Saptenno, M.Hum (Rektor Universitas Pattimura Ambon), Amir Hamzah (Forum Perjuangan Kebangsaan Maluku/FPKM), Dr Yantje Tjiptabudi, M.Hum (Dekan Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon), Dr Ir Ibrahim Ohorella, MP (Rektor Universitas Darussalam Ambon), Dr Augy Syahilatua, MSc (peneliti utama LIPI), Dr Semuel Leunufna, MSc (Pusat Pelestarian Keanekaragaman Hayati Maluku/PPKM), Matheos Pormes (tokoh masyarakat Maluku) serta Usman Umarella, SP, Msi (akademisi Universitas Darussalam Ambon). Selain itu, Dayanto, SH, M.Hum (akademisi Universitas Darussalam Ambon), Fatmawati Pelupessy, SE, MM (akademisi Universitas Darussalam Ambon), Boetje Baltazar (praktisi migas), Rudy Rahabeat, MSi (akademisi Universitas Kristen Maluku), Ir Mahasale Sangadji (Forum Pemuda Kawasan Timur Indonesia), Theopilus Luis (Archipelago Solidarity Foundation), Ferdinand Lasatira (tokoh pemuda Maluku), Andy Lippo Zakarias, SH (Kesatuan Pelaut Indonesia), Sony Patisilano, MBA, M.Marin (Kesatuan Pelaut Indonesia), Mukmini, S.Sos, Msi (akademisi Universitas Darussalam Ambon), Novita Magrib, MT (Dekan Fakultas Teknik Universitas Darussalam Ambon) serta Tino Latumeten (pemuda Maluku). Sementara itu, Nus Saptenno dan Ibrahim Ohorella menegaskan sikap kalangan perguruan tinggi di Maluku yang intinya menghendaki agar pembangunan kilang dilakukan di darat, bukan di laut lepas. “Kami sudah mengkaji dan mendiskusikan sosial Blok Masela, semua civitas akademika perguruan tinggi di Maluku ingin rakyat Maluku memperoleh peningkatan kesejahteraan dari kebaradaan blok migas abadi, Masela. Karena itu cara terbaik adalah dengan membangun kilang di darat,” kata Saptenno. Sedang tokoh Maluku Amir Hamzah menjelaskan geopolitik sekitar wilayah Maluku dalam kaitan Blok Masela. “Jadi, harus dipikirkan bagaimana implikasi dari keputusan membangun kilang Blok Masela akan berpengaruh di wilayah sekitar Pulau Marsela dan juga sekitar Maluku dan Indonesia umumnya,” katanya. Amir Hamzah juga bicara soal kewenangan asimetris daerah akan mendapat pembagian yang lebih dari sumber daya alam yang ada di wilayahnya dan juga soal kemungkinan Maluku dan Maluku Utara diberi otonomi khusus seperti Papua dan Papua Barat serta Aceh. Sedangkan Boetje Baltazar menjelaskan secara teknis keberadaan Blok Masela dan kandungan gas abadi sangat besar, yakni sekitar 10,73 triliun kubik fit yang jika produksi selama 30 tahun berturut-turut tak akan habis. “Hal ini luar biasa. Karena itu Maluku harus dapat manfaat juga,” katanya. Mendengar masukan dan keinginan para tokoh Maluku ini, menurut Engelina, Sidarto mengemukakan telah memahami semua pemikiran itu dan akan membahasnya dalam paripurna Wantimpres. “Saya segera bahas di paripura dan jika perlu mengundang lagi para tokoh, Namun masukan tadi juga kita serahkan ke Presiden,” kata Sidarto. Menurut Engelina, Sidarto akan menyampaikan bahkan catatan penting mengenai pembangunan kilang di darat. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Blok Masela , Blok Migas , maluku , investasi , Ekonomi

Sumber: RimaNews