3 Tahun Pasca-Tsunami Jepang 3/11, Jangan Lupakan Memori Bencana

RIMANEWS – Tiga tahun setelah gempa bumi berkekuatan 9.0 Skala Richter dan tsunami yang melanda timur laut Jepang, Asahi Shimbun membuat polling terhadap para korban selamat. Hasilnya sungguh mencengangkan. Sebagian besar korban merasa dan meyakini bahwa Jepang semakin melupakan kenangan bencana. Program rekonstruksi kawasan terdampak terkesan berhenti dan tak terurus. Peristiwa 3/11 tiga tahun lalu meninggalkan luka mendalam bagi Jepang. Asahi Shimbun salah satu media yang selalu mengontrol isu perkembangan pasca 3/11. Baca Juga Radiasi Nuklir Fukushima Terdeteksi di Amerika Kritik pemerintah, jurnalis Filipina ditembak mati Wanita Muslim akan jadi perdana menteri Rumania Survei yang dilakukan pada bulan Februari melalui surat dan wawancara pribadi itu mencakup sekitar 1.000 korban. Sebanyak 726 tanggapan diterima dengan tingkat validitas tinggi. Kelompok yang sama juga disurvei tahun lalu. Dalam survei terbaru, 76% responden mengatakan “merasa” atau “merasa sampai batas tertentu” bahwa kenangan gempa dan tsunami dahsyat yang menimpa pantai timur Jepang 11 Maret 2011 lalu memudar. Orang-orang seolah melupakan bencana itu, tidak ada kepekaan mendalam atas peristiwa menyedihkan itu. Angka tertinggi sebanyak 83% tercatat di Prefektur Fukushima, di mana reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima No 1 mengalami krisis tingkat tiga. Menyusul berikutnya adalah Prefektur Iwate dengan angka 74% dan diikuti Prefektur Miyagi di angka 72%. 71% responden mengatakan upaya rekonstruksi di wilayah terdampak hanya “sedikit” atau bahkan “tidak” mengalami kemajuan. Para korban selamat juga ditanya dengan adanya Olimpiade Tokyo 2020 apa kira-kira imbas yang akan mereka dapatkan di daerah bencana, dengan beberapa pilihan yang diperbolehkan. 75% mengatakan pembangunan satu fasilitas Olimpiade saja dipastikan akan menunda upaya rekonstruksi, sementara 63% mengatakan pesta olah raga super mewah itu akan semakin mengalihkan perhatian publik dan mengaburkan memori bencana. Hanya 13% yang mengatakan Olimpiade akan membantu menyoroti penderitaan masyarakat di daerah bencana dalam skala internasional, dan 10% mengatakan event 4 tahunan itu akan mempercepat langkah untuk mengatasi krisis nuklir Fukushima dan membangun kembali masyarakat yang terkena dampak. Survei Asahi Shimbun mendapati korban tetap khawatir atas kelanjutan kehidupan sehari-hari mereka. Untuk memenuhi kebutuhan dan mengamankan pekerjaan mereka masih belum tenang. Kekhawatiran mereka tidak bisa disembunyikan meskipun para responden itu sedikit lebih optimis dari tahun lalu. Berikutnya, para korban disurvei untuk menyebutkan satu atau lebih sumber keprihatinan bagi masa depan mereka. Hasilnya yang tertinggi adalah “prospek ekonomi, seperti biaya hidup,” mereka yang dipilih oleh 58% responden, turun dari angka 63% pada survey tahun 2013. Menyusul berikutnya adalah kekhawatiran “menjaga atau mengamankan pekerjaan,” yang dipilih oleh 39% responden, turun dari 41% tahun sebelumnya. Korban di Prefektur Fukushima rata-rata mengkhawatirkan tentang kontaminasi dari kecelakaan nuklir di wilayah mereka serta lamanya waktu mereka harus berstatus pengungsi dibandingkan rekan-rekan mereka dari dua prefektur lain, Iwate dan Miyagi. 52% responden Fukushima memilih opsi “bahaya kesehatan radiasi harus diturunkan” sebagai kepedulian terhadap kehidupan masa depan mereka. Opsi yang sama hanya dipilih 6% responden di Miyagi dan 5% di Iwate. 51% responden di Fukushima merasa “masalah kesehatan yang berasal dari evakuasi,” harus diperhatikan. Angka tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan responden Miyagi yang hanya memilih 25% dan responden Iwate hanya 24%. Survei juga menunjukkan bahwa isu-isu kebijakan kesehatan dan kesejahteraan korban adalah di antara masalah yang diharapkan terus ditingkatkan kepeduliannya. Ketika diminta untuk menyebutkan 1 hingga tiga masalah yang harus menjadi prioritas pemerintah pusat dan daerah, para korban gempa dan tsunami Jepang memilih opsi “bantuan untuk biaya pengobatan,” yang dipilih oleh 38% responden, naik dari survey 2013 yang hanya 34%. 19% responden memilih “perluasan layanan keperawatan, serta membangun kembali dan menambahkan fasilitas kesejahteraan,” naik dari angka 12% tahun lalu. (Maghfurrodhi/RIMA/asahi) Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Internasional , Tsunami Jepang , Fukushima , Gempa Jepang , 3/11 , Iwate , Miyagi , Internasional , Tsunami Jepang , Fukushima , Gempa Jepang , 3/11 , Iwate , Miyagi , Internasional , Tsunami Jepang , Fukushima , Gempa Jepang , 3/11 , Iwate , Miyagi

Sumber: RimaNews