1.028 Personel Kawal Aksi 2 Desember di Palu

Palu – Kepolisian Resor (Polres) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) akan mengerahkan 1.028 personel untuk mengamankan aksi bela Islam jilid III yang akan berlangsung di depan Kantor Gubernur Sulteng, Jalan Sam Ratulangi Kota Palu (2/12) besok. Kapolres Palu, AKBP Christ Reinhard Pusung mengatakan, personel yang diturunkan itu terdiri dari personel Polres palu, ditambah BKO dari satuan Sabhara dan Brimob Polda Sulteng. “Sebayak 1.000-an personel atau 10 Satuan Setingkat Kompi (SSK) kita turunkan untuk pengamanan aksi damai besok,” kata Christ, Kamis (1/12). Sebelumnya, Kapolda Sulteng Brigjen Pol Rudy Sufahriadi pada apel gelar pasukan pengamanan aksi damai 2 Desember 2016 mengimbau kepada seluruh personel yang terlibat dalam pengamanan untuk menjaga hak semua masyarakat yang berada di Kota Palu “Ini adalah kota kebanggaan yang kita cintai, kota yang harus damai dan tertib. Kita sebagai pelayan, melayani saudara-saudara kita yang akan melakukan aksi damai di sini,” ujarnya. Kapolda Rudy yang juga penanggung jawab Operasi Tinombala Poso itu mengharapkan kepada masyarakat Sulteng, khususnya di Kota Palu yang ingin berunjuk rasa agar menjaga ketertiban umum selama unjuk rasa berlangsung dengan tidak mengganggu hak-hak masyarakat lainnya. “Yang penting adalah selama unjuk rasa tidak mengganggu ketertiban umum, kita akan layani semuanya,” tegasnnya. Sementara itu, Informasi yang diperoleh SP dari Poso menyebutkan, apel Nusantara di Kabupaten Poso yang digelar di lapangan GOR futsal Kota Poso Rabu (30/11) kemarin, dihari ribuan orang, terdiri dari pelajar, tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Wakil Bupati Poso, Samsuri dalam orasinya mengatakan, simbol Bhineka Tunggal Ika menegaskan kalau semua perbedaan itu adalah satu adaya. Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk berkarya dan perbedaan itu sangat indah. “NKRI harga adalah mati yang tidak bisa ditawar lagi dan harus dijaga serta dipertahankan,” tegasnya. Apel Nusantara di Poso juga diisi orasi dari perwakilan tokoh agama dan pemuda, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan sebagai bentuk nasionalisme. Sejumlah warga yang hadir dalam apel kebangsaan itu mengaku, menolak berbagai bentuk kekerasan dan ingin selalu hidup cinta damai. “Kami tak ingin kekerasan papa pun, kami selalu ingin hidup dengan cinta damai di Poso,” ujar Nasarudin, salah seorang warga di wilayah bekas konflik itu. John Lory/CAH Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu